Desa  

Desa Beji Jadi Satu-satunya Desa di Tuban Specta Night Carnival, Angkat Cerita Rondho Kuning Sendang Jomblang

setiobudi2025
1000937479

deputinews.com- Tuban – Kreativitas masyarakat Desa Beji, Kecamatan Jenu, Kabupaten Tuban, menembus panggung Kabupaten Tuban melalui keikutsertaannya dalam Tuban Specta Night Carnival (TSNC) 2026. Desa Beji menjadi satu-satunya desa yang tampil dalam gelaran carnival tersebut.

Keikutsertaan Desa Beji membawa cerita rakyat lokal “Rondho Kuning Sendang Jomblang”. Kisah tersebut dikemas dalam pertunjukan kolosal yang melibatkan warga asli Desa Beji dari berbagai kalangan.

Kepala Desa Beji, Zainul Arifin, mengatakan keikutsertaan dalam TSNC 2026 berawal dari keinginan untuk turut memeriahkan event kabupaten sekaligus membawa kreativitas masyarakat Beji ke panggung yang lebih luas.

“Selama ini kreativitas masyarakat Beji lebih banyak sebatas tampil di tingkat desa atau kecamatan. Karena itu, kami ingin berpartisipasi dan menyemarakkan TSNC Tuban 2026,” ujarnya kepada Reporter tubankab minggu (29/08).

Awalnya, kata Zainul, pihak desa hanya berkeinginan memberikan partisipasi terbaik dalam memeriahkan acara. Namun setelah mengetahui bahwa Beji menjadi satu-satunya desa yang ikut dalam TSNC, semangat untuk memberikan penampilan terbaik semakin kuat.

Menurutnya, penampilan tersebut tidak hanya ditujukan sebagai hiburan dan bagian dari kemeriahan carnival, tetapi juga diharapkan dapat menginspirasi desa-desa lain untuk berani menampilkan potensi dan kreativitas masyarakatnya pada event di tingkat kabupaten.

“Pertama tentu bernilai hiburan dan semarak. Kedua, semoga bisa menjadi inspirasi bagi desa-desa lainnya agar turut serta menyemarakkan event kabupaten yang akbar seperti ini,” tuturnya.

Persiapan penampilan dilakukan melalui proses yang cukup panjang. Ketua Panitia Karnaval Desa Beji, Jamilatun Nikmah, menjelaskan persiapan dimulai dari pembentukan kepanitiaan, penyusunan konsep, pembagian tugas, persiapan kostum dan properti, hingga latihan serta gladi bersama.

Menariknya, persiapan tidak hanya melibatkan peserta yang tampil. Anak-anak, remaja, orang tua, tokoh masyarakat, pelaku seni hingga pemuda turut mengambil bagian.

“Semangat gotong royong menjadi kekuatan utama. Ada yang membantu membuat properti, menyiapkan kostum, mendukung konsumsi, mengatur peserta, hingga membantu kelancaran teknis di lapangan,” jelasnya.

Ia menyebut tantangan terbesar adalah menyatukan waktu, tenaga dan ide dari banyak warga yang memiliki kesibukan masing-masing. Selain itu, seluruh konsep harus dipastikan dapat diwujudkan dengan baik, mulai dari kostum, properti, koreografi hingga kekompakan peserta.

Namun, berbagai kendala tersebut justru menjadi bagian dari proses yang memperkuat kebersamaan warga.

“Bagi kami, yang terpenting bukan hanya hasil akhirnya, tetapi juga bagaimana proses persiapan ini mampu mempererat silaturahmi dan membangun rasa memiliki masyarakat terhadap Desa Beji,” katanya.(MCT,/red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *